Pagi tadi, Sabtu 15 Agustus 2026, matahari belum begitu menyengat, tapi tampak ada aktivitas cukup serius di tengah lapangan Argorejo Sedayu.
Ya, ada kegiatan gladi bersih dalam rangka persiapan upacara HUT ke-81 kemerdekaan Indonesia di tingkat Kapanewon Sedayu, Bantul.
SMPN 2 Sedayu diberikan tugas dan amanah sebagai petugas paduan suara. Persiapan latihan di sekolah sudah dilaksanakan sejak 22 Juli 2026 dengan melibatkan murid-murid yang mendaftar atau ditunjuk untuk ikut sebagai anggota paduan suara.
Lain di tengah lapangan, lain pula di sisi barat lapangan dengan hamparan sawah yang ada. Kalau di tengah lapangan tampak para petugas yang bersiap, pada area persawahan justru tampak pemandangan menarik yang mengingatkan saya pada sebuah jargon khas di masyarakat.
Holopis Kuntul Baris
Sekitar pukul 09.00 WIB ketika saya menoleh ke arah barat, tampak kawanan burung kuntul yang menemani seorang petani yang sedang membajak di sawah. Sebuah pemandangan yang menarik, sekumpulan hewan unggas berwarna khas putih berjejer rapi, bagaikan para petugas Paskibraka yang ketika itu juga berbaris rapi menggunakan seragam putih-putih.


Holopis Kuntul Baris adalah sebuah istilah yang dikenal dalam budaya tradisional masyarakat Jawa dahulu. Terinspirasi dari kekompakan kawanan burung kuntul ketika terbang dan mencari makan, masyarakat lalu mengintegrasikan itu dalam wujud kebersamaan dan gotong royong pada beragam aktivitas masyarakat. Terutama dalam kegiatan atau hajatan yang melibatkan orang banyak. Itu menunjukkan simbol persatuan, keserasian, dan kerja sama tanpa pamrih.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno memopulerkan kembali istilah ini ke tingkat nasional pada masa-masa setelah kemerdekaan. Bung Karno kerap menyelipkan seruan “Holopis Kuntul Baris” dalam pidato-pidatonya untuk membakar semangat persatuan dan menegaskan bahwa pembangunan bangsa hanya bisa dicapai jika seluruh rakyat bekerja sama bahu-membahu tanpa membedakan latar belakang.
Dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945, beliau mengatakan:
“Gotong-royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari ‘kekeluargaan’, saudara-saudara!… Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”
Istilah “Holopis Kuntul Baris” ini juga kerap muncul dalam lagu dolanan Jawa anak-anak. Bahkan dalam musik modern pun istilah tersebut diangkat, misalnya dalam lagunya grup musik Jogja Hip Hop Foundation (JHF).
Kebersamaan Anggota Paduan Suara SMPN 2 Sedayu
Filosofi “Holopis Kuntul Baris” tampaknya layak disematkan juga pada murid-murid SMPN 2 Sedayu. Dengan potensi sekaligus keterbatasan yang ada, anak-anak yang menjadi anggota paduan suara tetap bersemangat dalam kebersamaan, bahu-membahu dengan berlatih untuk berupaya menampilkan yang terbaik.
Semoga segala usaha anak-anak yang didampingi bapak/ibu pendamping bisa berbuah hasil yang baik demi kelancaran upacara peringatan HUT kemerdekaan.
“Holopis Kuntul Baris” !!!

@Pak_Bala

