Jelajah Situs Cagar Budaya Kerajaan Mataram Islam

Rabu, 17 Juli 2017 siswa SMP Negeri 2 Sedayu mengirimkan tiga siswa kelas VIII yaitu Elmeira Floranza Pribadie, Asri Suryani dan Lisa Dewi Prayekti untuk mengikuti kegiatan jelajah situs cagar budaya. Para siswa didampingi oleh satu orang guru mata pelajaran IPS, yaitu: Ibu Ani Wakidah Basriani, S.E., M.Pd.

Acara jelajah situs cagar budaya ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dengan mengundang 12 sekolah SMP di Kabupaten Bantul. SMP Negeri 2 Sedayu termasuk salah satu sekolah yang memperoleh undangan untuk mengikuti acara tersebut.

Para siswa berangkat dari Sekolah pukul 06.20 WIB bersama guru pendamping. Para peserta berkumpul di Dinas Kebudayaan Bantul pukul 07.00 untuk registrasi dan upacara pelepasan kegiatan jelajah situs Cagar Budaya 2019 oleh Kepala Dinas terkait. Pukul 08.00 kegiatan dimulai.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Sendang Seliran di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Kotagede. Sendang ini merupakan tempat wudhu Kanjeng Panembahan Senopati, penguasa Kerajaan Mataram Islam pada waktu itu. Didalam sendang terdapat beraneka ragam ikan. Tetapi ada satu jenis ikan yang memiliki nilai sejarah, yaitu lele putih. Ikan ini dijaga kelestariannya sampai sekarang. Konon ikan tersebut merupakan hewan kesayangan Kanjeng Panembahan Senopati.

Para siswa dan guru pendamping dipersilakan menggali berbagai informasi tentang sendang ini kepada petugas jaga. Petugas jaga sendang terdiri dari dua kelompok yang berasal dari dua kerajaan, yaitu: Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Hal ini terjadi karena, Raja-Raja yang bersemayam di kompleks makam tersebut merupakan nenek moyang penguasa kedua kerajaan tersebut sebelum Mataram Islam dibagi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti.

Sendang terbagi menjadi dua area yaitu Sendang Kakung dan Sendang Putri yang fungsinya sebagai tempat bersih diri. Masyarakat umum juga diperbolehkan wudhu, mandi atau mencuci disana. Para peziarah sebelum memasuki makam Raja-Raja Mataram membersihkan diri di sendang seliran terlebih dahulu. Tetapi makam hanya dibuka pada hari-hari tertentu, yaitu Senin, Kamis, Jumat dan Minggu saja.

Lokasi kedua adalah Situs Kauman Pleret, disana terdapat sisa bangunan Masjid Agung Kauman Pleret yang dibangun pada masa Amangkurat I atau Amangkurat Agung. Masjid. Masjid ini berukuran cukup besar pada masa itu, yaitu 40 x 40 meter dengan tiang tiang penyangga yang ditopang umpak bulat dari batu andesit. Saat ini lokasi penemuan masjid tersebut masih diteliti dan diekskavasi oleh Arkeolog dibantu mahasiswa dan Dinas Kebudayaan. Siswa SMP 2 Sedayu, Elmeira Floranza Pribadie diberi kesempatan untuk membantu membersihkan batu bata sisa bangunan masjid tersebut dengan sikat.

Lokasi yang ketiga adalah Museum Pleret, disana para siswa diajak menyaksikan film dokumenter Cagar Budaya di Museum tersebut. Selain itu, siswa juga bisa melihat bahkan diperbolehkan menimba air di Sumur Gumuling yang terdapat didepan gedung museum. Selanjutnya para peserta jelajah diantar ke lokasi Kedaton atau Istana Kerajaan Mataram Islam. Para siswa selama kegiatan mencatat semua informasi yang diperoleh dalam dua lembar kertas laporan yang dikumpulkan pada saat kegiatan berakhir.  Kegiatan ini berakhir pada pukul 14.00 WIB. Para siswa sepanjang perjalanan pulang mengungkapkan kesan mereka kepada guru pendamping. Mereka sangat tertarik dan antusias untuk mengikuti acara yang serupa jika ada kesempatan lagi dikemudian hari.


Praktik membersihkan sisa bangunan Masjid Agung Pleret

Post by : Ani Wakidah Basriani, S.E., M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *